The Left Ones

Istilah 'Marjinal' pertama kali saya dengar dari saat SMA dan saya sudah sering membaca tapi tidak pernah tahu apa arti sebenarnya sampai pada saat mentoring kampus untuk tugas ospek dari mentor.

Tugas ospek kali ini mengangkat tentang kaum marjinal yang harus saya observasi. “Apa sih kak kaum marjinal?” “Kaum marjinal itu adalah kaum terbelakang yang hak-haknya diambil.” Dalam pikiran, saya mulai bertanya-tanya apa arti unknown word itu. Sampai mentor saya member contoh kalau kaum marjinal itu adalah buruh outsourcing, orang yang asli daerah A tapi tidak punya kesempatan tinggal di daerah A karena telah diduduki oleh orang asal B, dll. Jadi saya bisa menyimpulkan kalau kaum marjinal adalah masyarakat kecil kelas bawah yang hidupnya terpinggirkan dari masyarakat.

Mentor kami pun mulai memotivasi kami untuk berpikir kritis dengan cara menyuruh kami member satu contoh dari kaum marjinal yang akan kami observasi. Ada yang bilang kaum LGBT yang disiksa sampai kabur dari rumah karena tidak mendapatkan kebebasan, ada yang bilang wanita korban kekerasan seksual, ada yang bilang penjaga rel kereta api, dan ada yang bilang anak kecil yang berprofesi sebagai pengemis sehingga mereka merelakan waktu mereka untuk sekolah.

Akhirnya setelah menyatukan pikiran, kami sepakat untuk mengobservasi pengemis anak-anak.

Itulah saya berfoto bersama Kelompok 39 PSAK dan Rizka, Tasya, dan Saputra Irawan. Mereka adalah kaum marginal yang harus bekerja demi memperoleh pendidikan yang layak.

Melihat Tasya hati saya sangat sedih. Saya teringat ketika saya kecil, saya bermain bersama tetangga dan sepupu saya. Sedangkan Tasya harus bekerja meminta-minta di bawah terik matahari dan terkena hempasan debu. Mendengar Tasya dan Rizka hanya makan sambal pakai nasi jika tidak punya uang juga membuat hati saya hancur. Semasa saya kecil, saya sering tidak menghabiskan makanan yang berujung makanan itu akhirnya di buang di tempat sampah. Jadi bisakah kalian membayangkan betapa hancurnya hati saya saat mendengar perkataan mereka?! Saat pulang sekolah, Rizka juga harus mengais rezeki dan tidak bisa beristirahat karena sudah capek di sekolah. Dulu setelah pulang sekolah, saya selalu menonton kartun dan tidur siang. Saya bisa merasakan betapa letihnya badan Rizka yang kecil itu setelah sekolah masih harus mencari uang lagi.

Mengapa ini semua terjadi?

Apa salah mereka?

Mereka belum berdosa tapi sudah harus merasakan kerasnya dunia ini. Bagaimana jika suatu hari Rizka putus sekolah dan Tasya tidak bisa sekolah? Bukankah mereka akan selamanya berada di lingkaran setan kemiskinan?

Semoga mahasiswa FISIP UI bisa memberhentikan lingkaran setan kemiskinan dan meniadakan kaum marginal lagi seperti Rizka, Tasya, dan Saputra Irawan di Indonesia.

10 Oscar Nominees Posing with Their Younger Selves {x}

(Source: sageshorty)

mtvstyle:

Lupita Nyong’o has worn every color ever invented.

SDCC Captain America 2 interview (x)

(Source: gayavengers)

celebstarlets:

2/23/14 - Lorde + Taylor Swift shopping in West Hollywood.

One of my favorite things to do is go for a hike in California… I could get homesick for that.

(Source: hiddleto)

moist-fondling:

"hope you don’t mind, let myself in"

Kristen Wiig as Harry Styles on Jimmy Fallon +

(Source: harryniips, via randomfactory)

Tumblr Themes Facebook Themes Twitter Backgrounds